Teman Baru dari Kota
Anak kelas lima sekolah dasar seharusnya mengharapkan kue dan kado ulang tahun, bukan keharmonisan keluarga. Di tengah rumah yang terlalu sering berisik, Lini bertemu Rani—teman yang membuat hari-harinya terasa sedikit lebih ringan. Namun ketika hidup mulai terasa terlalu tenang, Lini menyadari ada sesuatu yang salah.
Sudah hari Senin pukul lima pagi. Air mata Lini harus segera berhenti mengalir setelah semalaman meratapi nasibnya yang terasa tak kunjung membaik.
Ia harus bergegas menjajakan kue buatan ibunya sebelum matahari naik terlalu tinggi. Kalau kesiangan sedikit saja, dagangannya hanya akan laku setengah dari biasanya. Maklum, keluarga Lini bukan satu-satunya keluarga miskin yang tinggal di desa itu. Hanya segelintir orang yang mampu dan mau membeli kue dagangannya.
Setiap pagi, Lini berkeliling desa hingga pukul tujuh. Setelah itu, ia pergi ke sekolah. Sementara ibu dan bapaknya berjualan sayur dan buah di pasar hingga sore hari.
Lini menangis bukan hanya karena kondisi ekonomi keluarganya. Ia menangis karena pertengkaran yang hampir setiap hari terjadi di rumahnya. Menyaksikan ibu dan bapaknya saling melontarkan kata kasar sudah menjadi hal yang terlalu sering ia dengar.
Masalah uang selalu menjadi awal dari semuanya. Lini belum benar-benar mengerti kenapa keluarganya selalu kekurangan, padahal ibu dan bapaknya bekerja sejak pagi sampai sore. Ia mencoba memahami keadaan itu, meskipun sebetulnya belum saatnya anak seusianya memahami beban seberat itu.
Dua minggu lagi hari ulang tahunnya.
Anak kelas lima sekolah dasar seharusnya mengharapkan kue dan kado ulang tahun, bukan keharmonisan keluarga.
Pagi itu, Lini sampai di sekolah setelah berjalan kaki selama dua puluh menit dari rumah. Di sekolah, ia anak yang biasa-biasa saja. Nilainya tidak pernah terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu rendah. Ia biasanya berada di peringkat sepuluh sampai dua belas dari dua puluh siswa di kelas.
Namun untuk Lini, itu sudah luar biasa.
Bisakah kau bayangkan anak berumur sepuluh tahun mengerjakan tugas sekolah, sementara dari ruang sebelah ibu dan bapaknya saling mencaci maki?
Lini tidak memiliki teman dekat di sekolah. Ia lebih sering duduk sendiri di koridor kelas, memperhatikan anak-anak lain yang tertawa seolah hidup mereka tidak pernah terlalu berat.
Hingga suatu hari, ia mengenal Rani.
Saat itu Lini sedang duduk di dekat kelas sambil menunduk ke arah sepatunya.
“Ah, sepatu jelek,” gerutunya pelan. “Baru sebulan beli sudah rusak.”
Bagian sol sepatunya menganga. Setiap ia melangkah, mulut sepatu itu seperti ikut mengeluh.
“Halo… eh, itu kenapa?” tanya seorang anak perempuan yang tiba-tiba berhenti di depannya.
Lini mendongak. Anak itu memakai seragam kelas enam. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tenang, dan tatapannya tidak seperti anak-anak lain yang biasa menertawakan sesuatu yang rusak.
“Sepatuku rusak,” jawab Lini singkat.
Anak itu berjongkok sebentar, memperhatikan sepatu Lini, lalu tersenyum kecil.
“Aku Rani.”
Sejak hari itu, mereka mulai sering bertukar cerita. Awalnya hanya tentang sepatu, lalu makanan kesukaan, pelajaran yang sulit, guru yang galak, sampai cerita-cerita yang lebih berat dari yang biasa dibicarakan anak-anak seusia mereka.
Rani baru saja pindah dari kota bersama mama dan papanya agar lebih dekat dengan neneknya yang sedang sakit. Neneknya tidak ingin dirawat di mana pun selain di rumahnya sendiri, di desa yang sudah puluhan tahun ia tempati.
Rumah nenek Rani ternyata tidak terlalu jauh dari rumah Lini. Karena itu, mereka jadi sering bermain dan belajar bersama.
Meskipun Rani adalah siswa terpintar di sekolah, ia tetap mau diajak bermain congklak dan ular tangga. Ia juga sering membantu Lini belajar. Pelan-pelan, Lini mulai menemukan cara belajar yang lebih cocok untuknya. Nilai tugasnya membaik. Mungkin karena kali ini ia mengerjakan soal bukan sambil mendengar teriakan amarah ibu dan bapaknya.
Entah sejak kapan, rumah Lini juga mulai terasa lebih tenang.
Sudah satu minggu kesedihan tidak lagi merenggut senyum kecilnya. Orang tuanya tidak pernah bertengkar lagi. Awalnya terasa aneh, tetapi anak mana yang tidak ingin merasakan rumah yang damai?
Ibu dan bapaknya tetap berjualan buah dan sayur di pasar. Lini tetap berjualan kue setiap pagi. Semua terlihat sama, kecuali satu hal: tidak ada lagi suara piring dibanting, tidak ada lagi pintu ditutup keras-keras, tidak ada lagi kata-kata kasar yang membuat dada Lini sesak.
Mungkin ibu dan bapaknya sudah mulai menyadari sesuatu, pikir Lini.
Mungkin keluarga mereka memang sedang membaik.
Lalu tibalah hari ulang tahun Lini.
19 Maret.
Biasanya, meskipun keluarga mereka tidak selalu harmonis, ibunya tetap memesan kue ulang tahun dari Bu Tina, tetangga sebelah. Harganya lima puluh ribu, dan tentu saja dibayar minggu depan.
Namun kali ini berbeda.
Tidak ada kue ulang tahun.
Tidak ada lilin.
Tidak ada ucapan selamat.
Bahkan tidak ada satu pun tanda bahwa hari itu berbeda dari hari-hari lainnya.
Lini kecewa, tetapi ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Barangkali ini tanda bahwa usianya tidak lagi kecil. Mungkin kue dan kado ulang tahun memang hanya untuk anak kecil.
Namun semakin sore, rasa kecewa itu berubah menjadi penasaran. Ada sesuatu yang terasa ganjil, tetapi Lini belum tahu apa.
Akhirnya, ia memberanikan diri bertanya kepada ibunya.
“Bu…” panggil Lini pelan. “Ibu lupa ya? Hari ini ulang tahun Lini.”
Ibunya menoleh. Wajahnya tenang, terlalu tenang.
“Ulang tahun?”
Lini mengangguk.
Ibunya tersenyum tipis, seolah sedang menjawab pertanyaan biasa.
“Sebenarnya, Ibu belum tahu tanggal kelahiranmu, Lini.”
Lini terdiam.
Kalimat itu masuk ke telinganya, tetapi tidak langsung bisa ia pahami. Tubuhnya mendadak dingin. Sekujur kulitnya merinding seperti baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Namun yang berdiri di hadapannya adalah ibunya sendiri. Benar-benar ibunya. Suara itu suara ibunya. Wajah itu wajah ibunya. Perempuan dewasa yang melahirkannya.
Tetap saja, ada sesuatu yang salah.
Lini mencoba menahan rasa aneh itu. Ia berjalan ke kamar seolah tidak terjadi apa-apa. Ia pernah mendengar tentang penyakit lupa yang sering diderita orang tua. Tapi ibunya masih muda. Ibunya masih kuat mengangkat keranjang sayur setiap pagi. Rasanya tidak mungkin.
Di atas kasur, Lini menatap langit-langit kamar.
Ia mulai mengingat-ingat kapan pertama kali hidupnya terasa berubah.
Ia tidak tahu kenapa pikirannya langsung tertuju kepada Rani.
Kehadiran Rani memang membawa banyak hal baik. Sejak mengenal Rani, Lini punya teman bicara. Nilainya membaik. Rumahnya tidak lagi berisik. Ibu dan bapaknya tidak lagi bertengkar. Semua terjadi begitu cepat, terlalu cepat, seperti halaman buku yang tiba-tiba meloncat ke bab bahagia tanpa menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya.
Lini memejamkan mata.
“Apa benar ini hidupku?”
“Atau aku hanya sedang bermimpi tentang hidup yang lebih mudah?”
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya hingga ia tertidur.
Keesokan paginya, Lini bangun kesiangan. Ibu dan bapaknya sudah pergi ke pasar. Ia tidak sempat menanyakan apa pun lagi.
Ia bergegas ke sekolah dan menjalani pelajaran seperti biasa. Namun pikirannya terus tertinggal pada percakapan kemarin sore. Pada ibunya. Pada ulang tahunnya. Pada Rani.
Namun kue ulang tahun kecil yang kemarin ia harapkan terlihat di atas meja dapur, di sebelah kompor gas tua milik orang tuanya. Keluarga Lini memang tidak memiliki meja makan. Selain tidak ada uang untuk membelinya, ruang kosong di rumahnya juga terbatas.
Saat lonceng istirahat berbunyi, Lini langsung mencari Rani.
Ia mencarinya di koridor kelas enam.
Tidak ada.
Ia mencarinya di dekat kantin.
Tidak ada.
Ia mencarinya di halaman belakang, tempat mereka pernah bermain congklak.
Tidak ada.
Akhirnya Lini bertanya kepada beberapa anak kelas enam.
“Kalian lihat Rani?”
Anak-anak itu saling berpandangan.
“Rani siapa?”
“Rani yang baru pindah dari kota,” jawab Lini. “Yang rumah neneknya dekat rumahku.”
Mereka menggeleng.
Tidak ada yang mengenal Rani.
Lini bertanya kepada guru kelas enam. Jawabannya sama.
Tidak ada siswa bernama Rani.
Tidak pernah ada siswa baru dari kota.
Tidak ada nenek sakit yang rumahnya dekat rumah Lini.
Sepulang sekolah, Lini berjalan ke rumah nenek Rani. Langkahnya cepat, napasnya pendek. Ia masih berharap semua orang hanya lupa. Ia masih berharap Rani akan keluar dari pintu rumah sambil membawa papan congklak dan berkata, “Kamu kenapa panik sekali?”
Namun ketika sampai di tempat itu, Lini hanya menemukan sepetak tanah kosong.
Tidak ada rumah.
Tidak ada pagar.
Tidak ada kursi kayu di teras.
Tidak ada Rani.
Lini berdiri lama di sana.
Angin sore meniup rambutnya pelan. Ia menggenggam tali tasnya erat-erat, mencoba menahan sesuatu yang mulai pecah di dalam dada.
Jika Rani tidak pernah ada, lalu siapa yang menemaninya selama ini?
Jika Rani tidak pernah ada, siapa yang mengajarinya cara belajar?
Jika Rani tidak pernah ada, kepada siapa ia bercerita tentang suara piring yang pecah, tentang sepatu rusak, tentang ulang tahun yang ia tunggu diam-diam?
Lini pulang tanpa tangis.
Bukan karena ia tidak sedih, tetapi karena sedihnya terlalu besar untuk keluar sebagai air mata.
Malam itu, rumahnya kembali berisik.
Ibu dan bapaknya bertengkar lagi. Suara mereka saling menabrak dari ruang depan, seperti hari-hari sebelum Rani datang.
Lini duduk di kamarnya, memeluk lutut. Untuk beberapa saat, ia ingin menutup telinga rapat-rapat dan menghilang dari semua suara itu.
Tapi kemudian ia melihat buku tulis di atas meja.
Buku yang dulu sering ia pakai belajar bersama Rani.
Lini mengambil pensil. Tangannya gemetar. Ia membuka halaman kosong, lalu menulis satu nama.
Rani.
Ia menulisnya lagi.
Rani.
Dan lagi.
Rani.
Semakin lama, tulisan itu berubah menjadi kalimat-kalimat yang tidak pernah berani ia ucapkan kepada siapa pun.
Aku takut kalau ibu dan bapak bertengkar.
Aku capek pura-pura biasa saja.
Aku ingin ulang tahunku diingat.
Aku ingin punya teman.
Aku ingin ada yang mendengar.
Lini berhenti menulis. Matanya mulai basah, tetapi kali ini ia tidak segera menghapus air matanya.
Ia baru sadar, mungkin Rani memang tidak pernah benar-benar ada.
Mungkin Rani adalah cara hatinya bertahan saat rumah terlalu berisik.
Mungkin Rani adalah suara kecil di dalam dirinya yang selama ini mencoba mengatakan bahwa ia tidak seharusnya menanggung semuanya sendirian.
Lini memeluk buku tulis itu erat-erat.
Di luar kamar, pertengkaran masih terdengar. Rumahnya belum berubah. Hidupnya belum berubah. Tidak ada teman misterius yang mengetuk jendela.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Lini menulis sampai dadanya terasa sedikit lebih longgar.
Di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat dengan huruf yang lebih besar dari sebelumnya.
Aku tidak ingin menghilang seperti Rani.
Aku akan bertahan.
Masih ada tulisan lain yang mungkin ingin kamu baca.
Kamu bisa menjelajahi cerita, puisi, dan tulisan lain yang ditulis dengan hati di CurhatDong.
Lihat tulisan lainnya